Oleh: Yusrizal
A. PENDAHULUAN
Short Message Service (SMS), ‘layanan pesan pendek’ merupakan salah satu jenis layanan komunikasi yang banyak digunakan orang untuk berinteraksi. Jenis layanan ini menggunakan telepon selular, (hand phone)). SMS dewasa ini menjadi pilihan yang sangat diminati orang untuk berkomunikasi jarak jauh. Hal ini disebabkan karena, penggunaan pelayanan ini, di samping murah, cepat, mudah, dan apa yang ingin disampaikan secara langsung dapat diterima oleh lawan bicara.
SMS, layanan pesan pendek merupakan bentuk bahasa lisan yang dituliskan sebagai pengganti komunikasi langsung jarak jauh. Sejalan dengan fungsi bahasa, SMS pun dapat dijadikan alat komunikasi oleh manusia untuk bertukar pikiran, bergagasan, berbagi perasaan, berinteraksi atau berhubungan antar sesamanya.
SMS merupakan suatu ragam bahasa yang digunakan oleh pengirim pesan kepada penerima pesan yang berupa bahasa lisan yang dituliskan. Ragam bahasa yang digunakan dalam SMS dapat dikaji dari segi tindak tutur yang dikaitkan dengan analisis wacana. Teori tindak tutur yang digunakan adalah yang berhubungan dengan isi pesan, penggunaan, dan tindakan suatu pengucapan dalam situasi tertentu (Schiffrin, 1994:50). Fungsi, tindakan, dan konteks mempunyai hubungan yang erat satu sama lainnya. Konteks dapat menentukan fungsi atau makna dan tindakan suatu bahasa. Komunikasi selalu berlangsung dalam konteks, sehingga aspek-aspek dari situasi bertutur tidak terlepas dari pengaruh konteks. Kajian ini dilakukan terhadap tuturan dengan segala konteksnya, bukan terhadap kalimat yang lepas konteks.
Fungsi-fungsi tindak tutur yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam situasi-situasi yang berbeda dapat dikaji, karena fungsi tindak tutur adalah fungsi komunikasi sebuah tuturan. Halliday mengemukakan tiga fungsi bahasa yaitu: 1) fungsi ideasional, yaitu bahasa berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan dan menginterpretasikan pengalaman dunia; 2) fungsi interpersonal, yaitu bahasa berfungsi sebagai pengungkapan sikap penutur dan sebagai pengaruh pada sikap dan prilaku penutur seperti bertanya, perintah, rayuan, dan sebagainya; dan 3) fungsi tekstual, yaitu fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk mengkonstruksikan atau menyusun sebuah teks (Leech, 1983:86).
Layanan SMS, salah satu penggunaan bahasa yang sangat menarik untuk dikaji. Layanan ini memiliki spesifikasi khusus dalam penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Salah satu bentuk yang dikaji adalah penggunaan pendekatan teori tindak tutur dalam wacana yang berhubungan dengan arti, fungsi, dan tindakan dalam SMS.
Fokus kajian adalah pada analisis wacana Short Message Service (SMS) dengan pendekatan tindak tutur. Subfokus kajian adalah arti, fungsi, dan tindakan yang muncul dan SMS. Sehubungan dengan fokus dan subfokus kajian di atas, tujuan kajian adalah untuk melihat arti, fungsi, dan tindakan yang muncul dalam SMS. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan teori tindak tutur dalam analisis wacana. Kajian ini mendekripsikan bentuk, fungsi, dan tindakan yang muncul dalam SMS yang dikaitkan dengan konteks wacana. Data analisis berupa SMS yang dikirimkan teman sejawat kepada penulis. Data SMS terkumpul sebanyak 92 SMS.
B. KAJIAN TEORITIK
1. Tindak Tutur
Istilah dan teori tindak tutur pertama kali diperkenalkan oleh J.L. Austin, dan John Searle. Kedua filosof ini mengembangkan teori tindak tutur dari kepercayaan dasar bahwa bahasa digunakan untuk mealkukan tindakan, sehingga dasar wawasan berfokus pada bagaimana arti dan dihubungkan ke bahasa. Walaupun, pada awalnya teori tindak tutur tidak dikembangkan sebagai alat untuk analisis wacana. Namun demikian, teori tindak tutur telah mengarah pada analisis wacana, seperti bagaimana sebuah pengucapan dapat dilakukan lebih dari satu tinfak tutur pada saat yang bersamaan, dan hubungan antara konteks dan tindakan (Sciffrin, 1994:50)
Salah satu konsep dari tindak tutur adalah untuk menghasilkan tindak sosial dalam berkomuniaksi. Bila kita bertutur seperti bertanya, berjanji, memberi nasehat, memberi saran, dan sebagainya semua itu menunjukkan bahwa kita melakukan tindak tutur. Suwito (1988:33) mengungkapkan bahwa tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi linguistik yang pada dasarnya dapat berwujud pernyataan, perintah, keinginan, dan permintaan maka tindak tutur dapat berwujud demikian. Tindak tutur dalam suatu kalimat merupakan penentu dan tidak dapat dipisahkan dari makna yang dikandung oleh kalimat tersebut. Dengan demikian tindak tutur (specch act) merupakan bagian dari peristiwa tutur (speech event). Kalau peristiwa tutur dalam bentuk praktis adalah tuturan itu sendiri, seperti percakapan, pidato, surat, dan lain-lain, maka tindak tutur merupakan unsur pembentukannya berupa tuturan dan tindakan atau perbuatan.
2. Jenis Tindak Tutur
Austin (1975:94) mengemukakan bahwa jenis tindak tutur berdasarkan sifat antara hubungan penutur dengan lawan tutur adalah sebagai berikut:
1. Tindak lokusi (locitionary) yaitu tindak tutur atau tindak mengucapkan sesuatu dengan makna kata dan makna kalimat sesuai dengan kata itu dan menurut kaidahnya. Dalam hal ini kita tidak mempermasalahkan maksud atau fungsi ujaran yang merupakan perpanjangan atau perluasan dari makna harfiahnya. Jadi kalau mengujarkan “saya haus” seseorang mengartikan “saya” sebagai orang pertama tunggal (penutur), dan “haus” mengacu ke tenggorokan kering dan perlu dibasahi, tanpa bermaksud untuk meminta minum, orang ini dikatakan melakukan lokusi.
2. Tindak ilokusi (illocutionary act) yaitu tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara tentang maksud, fungsi atau daya tuturan yang bersangkutan dan bertanya untuk apa tuturan itu dilakukan. Jadi “saya haus” yang dilakukan untuk meminta minum adalah ilokusi (ilokusioner). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tindak ilokusi adalah sesutu tindakan yang linguistik (bentuk) yang diucapkan dalam konteks tertentu.
3. Tindak perlokusi (perlocutionary act) yaitu tindak tutur yang dilakukan penutur untuk menimbulkan efek dengan mengatakan sesuatu. Misalnya ujaran “Saya haus” di atas dapat berfungsi sebagai perlokusi jika diucapkan oleh penculik anak. Misalnya, untuk menakut-nakuti anak kecil yang diculik setelah sebelumnya diberitahu bahwa jika dan bila haus, si penculik itu selalu meminum darah. Satu petunjuk bahwa tindak ujar perlokusi adalah adanya efek dari tindak tutur itu, yaitu si anak menjadi takut.
Searle (1991:34) mengkategorikan tindak tutur atau tindak ujaran atas lima jenis yaitu: 1) Deklaratif, yaitu tindak tutur yang dilakukan penutur dengan tujuan untuk menciptakan status, keadaan, dan sebagainya sebagai sesuatu yang baru. Biasanya penutur harus memiliki peran institusi khusus dalam konteks tersebut untuk melaksanakan deklarasi. 2) Representatif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran yang dikatakannya. Biasanya jenis tindak tutur ini berupa pernyataan, kesimpulan, dan deskriptif. 3) Ekspresif, yaitu tindak tutur yang menyatakan apa yang dirasakan oleh penuturnya. Biasanya berupa ekspresi psikologis seperti rasa senang, sakit, tidak suka dan sedih. 4) Direktif, yaitu jenis tindak tutur yang digunakan pembicara untuk meminta seorang atau orang lain untuk melakukan sesuatu. Biasanya berupa ujaran yang dinginkan oleh pembicara seperti perintah, permintaan, saran, dan sebagainya. 5) Komisif, yaitu jenis tindak tutur yang digunakan oleh pembicara untuk bertekad atau commit pada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu. Misalnya ungkapan keinginan, rencana, janji, penolakan, dan sebagainya.
Menurut Wardhaugh (1986:3-8) fungsi tuturan adalah sebagai alat komunikasi manusia baik lisan maupun tulisan. Fungsi tuturan itu mencakup fungsi dasar, yang disebut dengan expression, information, exploration, persuasion, and entertainment. Menurut Holmes fungsi-fungsi tuturan dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan.
Dari sudut penutur, tuturan berfungsi sebagai personal atau pribadi (fungsi emotif). Maksudnya si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya, si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat tuturan tetapi juga memperlihatkan emosi sewaktu menyampaikan tuturannya. Dari segi pendengar atau lawan bicara, tuturan berfungsi sebagai direktif (instrumental dan retorikal), yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Tuturan tidak hanya membuat pendengar melakukan sesuatu tetapi juga melakukan kegiatan yang sesuai dengan keinginan pembicara.
Bila dilihat dari hubungan antara pembicara dan pendengar maka tuturan memiliki fungsi fatik (interpersonal, interactional) yaitu fungsi bahasa untuk menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan persahabatan, atau solidaritas sosial. Dari topik ujaran maka tuturan berfungsi sebagai refrensial (fungsi kognitif, representatif, dan ada juga yang menyebutnya sebagai fungsi denotatif atau informative). Fungsi tuturan di sini sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. Sedangkan dilihat dari amanat tuturan itu berfungsi sebagai imajinatif.
Menurut Halliday (1994:49), fungsi tuturan mencakup fungsi: instrumental (melengkapi materi yang dibutuhkan), regulatory/pengaturan (mengatur kebiasaan masyarakat), interaksional (menjalin hubungan sosial), personal (menunjukkan kepribadian), heuristic (menyelidiki lingkungan), imajinatif (bermain dan berkreasi), dan representasional (menunjukkan proposisi/saran). Tuturan mencakup fungsi lain yaitu: menghindar, estetika, menjembatani peraturan performatif, peraturan (bagi diri dan lainnya), afektif, kepribadian, identitas, referensial, instruksi/perintah, dan fungsi metalanguage.
3. Konteks
Konteks dapat berupa tempat/setting, upacara pernikahan, menulis surat wasiat, objek fisik, kapal, dokumen legal, dan identitas institusional, dan konteks tersebut membutuhkan respon tertentu yaitu membutuhkan hal yang cepat dimengerti (uptake).
Konteks merupakan serangkaian asumsi untuk menghasilkan efek konteks yang memadai dengan upaya yang diperlukan ketika mengkombinasikannya dengan informasi baru yang terkandung dalam ujaran. Konteks digunakan untuk menginterpretasi sebuah ujaran dan konteks itu ditentukan oleh pendengar. Dengan demikian, konteks dapat diidentifikasikan untuk menangkap pesan si pembicara. Oleh sebab itu kita dapat memahami dasar suatu tuturan dalam komunikasi. Konteks tersebut berupa pelibat (penutur dan lawan tutur), bentuk bahasa, tempat, waktu, situasi, dan topik pembicaraan. Fungsi bahasa juga merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi bentuk bahasa yang dipakai. Bentuk bahasa yang digunakan untuk memohon sesuatu berbeda dengan bentuk bahasa memaksa sesuatu.
C. PEMBAHASAN
Analisis Pesan dan Tindakan
Teori tindak tutur pada dasarnya berhubungan dengan apa yang “dilakukan” dengan bahasa dan dengan fungsi bahasa tersebut. Fungsi yang menjadi fokus adalah yang berhubungan dengan tujuan komunikasi (kekuatan ilokusi dari sebuah pengucapan). Tindak tutur yang dibahas berhubungan dengan pengucapan aktual yang dituliskan berupa pesan singkat dengan tipe pengucapannya dan cara yang dibangun oleh pengirim dan penerima pesan. Analisis berikut, membahas pesan singkat dari segi cara, fungsi, isi pesan, dan tindakan-tindakan yang muncul.
Pesan Singkat yang diawali dengan Sapaan keagamaan
1. Ass uda, awak blm punya sap bu kina katanya ada tugas analisis cerpen. Cerpen judul apa saja dan gmn analisisnya? Trims. (Cahya Wiguna).
“Assalamu’alaikum Uda, Awak belum punya SAP Ibu Kina, katanya ada tugas analisis cerpen. Cerpen judul apa saja dan bagaimana analisisnya? Terima kasih.”
Awak = saya, SAP = Satuan Acara Perkuliahan
SMS di atas, dimulai dengan ucapan ‘Assalamu’alaikum’, karena penutur dan lawan tutur memiliki keyakinan yang sama, menyapa, menyatakan diri bahwa belum memiliki SAP, menyakinkan bahwa ada tugas kuliah, menanyakan jenis dan bagaimana tugas yang akan dikerjakan. Teks pesan di atas dalam bentuk kalimat deklaratif dan diikuti dengan kalimat interogatif dengan tujuan untuk memberitahu pembaca tentang SAP dan tugas analisis cerpen. Tuturan diakhiri dengan ucapan terima kasih atas kesediaan lawan bicara. Dari ucapan di atas teridentifikasi tindakan-tindakan yaitu: menyapa, menyatakan, menyakinkan, dan menanyakan.
2. Ass Uda, awak gak bs kuliah ada kepent keluarga. Tolong sampaikan dan kalau bs titip tnd tgn. Trims. (Cahya Wiguna)
“Assalamu’alaikum Uda, Awak tidak bisa kuliah ada kepentingan keluarga. Tolong sampaikan dan kalau bisa titip tanda tangan. Terima kasih.”
Dari segi bentuk, pesan di atas terdiri dari empat kalimat yang berisikan kalimat deklaratif dan kalimat imperatif. Pesan diawali dengan mengucapkan salam, kemudian ia menyapa dengan rasa keakraban yang tinggi dengan menggunakan panggilan dari lawan bicaranya dengan sopan, baru setelah itu ia mengutarakan keinginannya, bermohon agar absensi perkuliahannya dibantu ditandatangani sesuai dengan permintaannya. Pesan tersebut mengandung beberapa tindakan sebagai berikut, memberi salam, menyapa, memberitahukan, permohonan, dan permintaan.
3. Ass, uda ada tugas apa buat hari senin ? Absen awak diparaf gak kmrn ? Trims. (Cahya Wiguna).
“Assalamu’alaikum, Uda ada tugas apa buat hari Senin? Absen awak diparaf ngak kemarin? Terima kasih.”
Dari SMS yang dikirimkan di atas, terlihat bahwa tuturan dimulai dengan memberi salam ‘Assalamu’alaikum’, dilanjutkan dengan sapaan akrab ‘Uda’. Tuturan dilanjutkan dengan pertanyaan tentang tugas yang akan dikerjakan untuk hari Senin, pernyataan tentang kehadirannya, pertanyaan yang diiringi dengan permintaan, dan dilanjutkan dengan ucapan terima kasih. Pesan dituliskan dalam bentuk kalimat deklaratif dan imperatif Ucapan dan tindakan yang teridentifikasi adalah memberi salam, menyapa, pertanyaan, pernyataan, permintaan, dan ucapan terima kasih.
4. Ass. Uda. Tolong bacakan: Lailahaillallah Allahuakbar +Surah Al-Ikhlas 3x utk kselamatan Masjid Al-Aqsa yg jam ini sdg dkepung Israel. Sms kpd 10 Org utk ikut berdoa. (Mughni)
” Assalamu’alaikum, Uda. Tolong bacakan: Lailahaillallah Allahuakbar dan Surah Al-Iklas 3 kali untuk keselamatan Masjid Al-Aqsa yang jam ini sedang dikepung Israel. SMS kepada 10 orang untuk ikut berdoa.”
SMS yang dikirimkan ini adalah rasa ungkapan solidaritas sesama umat muslim di negara Palestina. Ia mengajak temannya untuk bekerja sama membantu dengan doa dengan membacakan kalimat Allah agar rakyat Palestina selamat dari kepungan Israel. Pesan yang ia kirimkan mengandung beberapa tindakan sebagai berikut: permohonan, pernyataan, menyuruh, dan memerintah.
Pesan singkat dengan Sapaan resmi
1. Pak Yus, tolong sy dibawakan makalhnya kel 1+2 ya, sy tdk punya. Kt ktm di lobi ato lobi taman ya. Makasih. (Eny Zubaidah).
“Pak Yus, tolong saya dibawakan makalahnya kelompok 1 dan 2 ya, saya tidak punya. Kita ketemu di lobi atau lobi taman ya. Terima kasih”.
Dari kutipan di atas, ucapan dimulai dengan menyapa dengan panggilan ‘Pak Yus’ (teman perkuliahan) yang dimaksudkan dengan ‘tolong saya dibawakan makalahnya kelompok 1 dan 2 ya, saya tidak punya’ adalah makalah tugas mata kuliah Analisis Wacana yang sudah dipresentasikan dan mengajukan permohonan untuk dibawakan agar ia dapat memperbanyak dan memilikinya (saya tidak punya). Tuturan selanjutnya adalah untuk mengajak lawan bicara menyepakati keinginan pembicara untuk bertemu (Kita ketemu di lobi atau lobi taman ya). Harapan penutur kesepakatan yang diajukan oleh penutur dapat disetujui oleh lawan bicara dengan mengucapkan rasa terima kasihnya. Tindakan yang muncul adalah menyapa, permohonan, pernyataan, mengajak, dan meminta.
5. Pak Yus, tlg kirim No hp p gendro. Sekarang ya. Sy lg di yk. Sy ingin bcra ttg terj kita trim (Enny Zubaidah)
“Pak Yus, tolong kirim nomor HP Pak Hendro. Sekarang ya? Saya lagi di Yogyakarta. Saya ingin bicara tentang terjemahan kita. Terima kasih.”
Kondisi saat pesan ini dikirimkan adalah ketika tugas kelompok terjemahan harus diselesaikan sesegera mungkin. Sementara itu, pengirim pesan sedang berada di Yogyakarta. Dengan menyapa secara sopan, sebenarnya ia berkeinginan untuk memohon sekaligus memaksa penerima pesan dengan apa yang diinginkannya. Pesan tersebut mengandung beberapa tindakan sebagai berikut: menyapa, memohon, memaksa, pernyataan, dan pemberitahuan.
6. P’ Yus, terj nya slse snin. Ttg tgs revisi analisis percakpan kta, P’ Yus perbaiki sajiannya P’ Yus ya. Biar cept rampung. Terj dikejkn mulai sls. Ok?! Maaf (Eny Zubaidah)
“Pak Yus, terjemahannya selesai Senin. Tentang tugas revisi analisis percakapan kita, Pak Yus perbaiki sajiannya, Pak Yus, ya? Biar cepat rampung. Terjemahan dikerjakan mulai Selasa. Ok? Maaf!”
Pesan yang dikirimkan ini sarat dengan tindakan. Pengirim pesan berusaha menuntaskan semua keinginannya melalui satu pesan sekaligus. Pesan yang dikirimkan dimulai dengan sapaan akrab yang penuh dengan hormat, kemudian ia memberitahukan kepada temannya bahwa revisi tugas sudah selesai. Tujuannya adalah agar pesan dapat mengerjakan tugas lain dengan sedikit memaksa. Perintah ia berikan secara halus dengan memberikan pilihan, dengan mengajukan persetujuan. Dari pesan di atas terdapat beberapa tindakan sebagai berikut: menyapa, pemberitahuan, pernyataan, menyuruh, memaksa, perintah, persetujuan, dan permintaan.
Pesan singkat dengan sapaan keakraban
2. Uda kita masuk jam be rapa? Uda lokal berapa,blas ? (Aceng Hasani)
“Uda kita masuk jam berapa? Uda lokal berapa, balas?”
Sapaan bicara dalam SMS Uda, dimaksudkan oleh pengirim pesan adalah dengan tujuan untuk menambah keakraban. Hal ini disebabkan karena penerima pesan adalah orang Padang, dengan panggilan Uda sebagai panggilan keakraban bagi orang Padang. Dalam pesan tersebut teridentifikasi tindakan menyapa, bertanya, pernyataan, permohonan, dan memaksa.
3. Uda, benar ya yg ditej hlm 143 spa 156. Ref tdk usah (Enny Zubaidah)
“Uda, benar ya yang diterjemahkan halaman 143 sampai 156. Referensi tidak usah.”
Pesan yang dikirimkan oleh pengirimnya, diawali dengan sapaan hormat teman satu kelompok tugas kuliah. Setelah itu bertanya dengan tujuan memastikan apa tugas kelompok yang dikerjakan temannya sesuai dengan apa yang disuruh oleh dosennya. Kemudian ia memaksa temannya untuk tidak membuat bagian akhir, namun demikian temannya juga tidak keberatan atas paksaan dari temannya tersebut. Dalam satu pesan yang dikirimkan terdapat beberapa tindakan sebagai berikut: menyapa, bertanya, memastikan, dan menyuruh.
4. Uda Tlg soal yg dr bu Kinayati dibawa ya. Mau ngopi, soal punya sy gak ktm. Thanks. (Meti Istimurti)
“Uda Tolong soal yang dari Ibu Kina dibawa ya. Mau mengopi, soalnya punya saya nggak ketemu. Terima kasih”
Pesan ini diawali dengan permohonan agar penerima pesan bisa membantu kesulitannya. Dalam satu kesempatan pengucapan terdapat beberapa tindakan sebagai berikut: menyapa, memohon, menyatakan, dan pemberitahuan.
Pesan singkat dengan sapaan persaudaraan
1. Abx boleh gak sy pinjam tgs pretest sastra, ktm di dpn lorox abx jam 9.30, gimana ? (Aris Badara)
“Abang boleh nggak saya pinjam tugas pretest sastra, kita ketemu di depan lorong Abang jam 9.30, bagaimana?”
Dalam kalimat yang dikirimkan oleh teman sejawat ini, fungsi tuturannya adalah mengajukan pilihan terhadap permohonan ia untuk meminjam tugas pretest. Pilihan yang ia ajukan dengan pertanyaan. Untuk merealisasikan keinginan ia tersebut, ia mengajak temannya untuk bertemu di tempat yang ia tentukan. Dalam satu pesan yang ia kirimkan terdapat beberapa tindakan sebagai berikut, menyapa, memohon, mengajukan, menyatakan, bertanya, dan mengajak.
2. Abx ada yg ditanda tangani di tata usaha pasca. Aris. Skrg abx ditung (Aris Badara)
“Abang, ada yang ditandatangani di tata usaha Pascasarjana, Aris. Sekarang Abang ditunggu.”
Dari SMS di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa antara pembicara dan lawan bicara memiliki latar belakang yang sama. Ada yang ditandatangani di tata usaha pascasarjana dimaksudkan adalah kelengkapan administrasi mahasiswa pascasarjana UNJ. Pesan yang disampai pembicara memiliki beberapa tindakan diantaranya adalah tindakan menyapa, memberitahukan, pernyataan, menyuruh, dan perintah.
Pesan singkat dengan sapaan nama
1. Rizal, B’ ado bk telaah sastra. Lai nio? Japuiklah kamari, ibuk ado dirumah. Irfani (Irfani Basri).
“Rizal, Ibu punya buku Telaah Sastra. Kamu mau? Jemputlah kemari (rumahnya), Ibu ada di rumah.”
Ucapan di atas ditujukan untuk sesama teman perkuliahan. Ia memberitahukan kepada temannya bahwa ia memiliki buku materi perkuliahan Telaah Sastra. Kalau temannya mau maka ia bersedia untuk meminjamkan. Ia menawarkan kepada temannya buku tersebut. Untuk saat itu, ia juga menjelaskan kalau ia sedang berada di rumah dan silahkan datang ke rumahnya. Dari kutipan SMS di atas, pengucapan yang dilakukan terdapat beberapa tindakan yang teridentifikasi yaitu: menyapa, memberitahukan, pernyataan, meminjamkan, menawarkan, dan menjelaskan.
2. Rizal, b’ ndak punyo bab 7 shif rin analisis percakapan dan bab 1 folia. Tlg bao an beko b’ foto kopi. (Irfani Basri)
“Rizal, Ibu tidak punya Bab 7 Schiffrin analisis percakapan dan Bab 1 Folia. Tolong bawakan nanti, Ibu foto kopi.”
Pesan ini dimulai dengan menyapa penerima pesan dengan akrab. Kemudian pengirim pesan memberitahukan kalau ia tidak memiliki beberapa materi perkuliahan. Pernyataan yang ia ajukan bertujuan agar si penerima pesan dapat membantu ia untuk melingkapi materi yang ia tidak miliki tersebut. Pesan yang ia kirimkan tersebut mengandung beberapa tindakan sebagai berikut: menyapa, pemberitahuan, permohonan, dan pernyataan.
3. Rizal b’ nio buek telaah tekstual yg strktral. Rizal lai ado Teori ksastr P’ Mursal atau yg lain yg ada alur, tokoh, dll. Kl ado pinjam b’, Irfani. (Irfani Basri).
“Rizal, Ibu mau membuat tugas telaah tekstual yang struktural. Apakah Rizal ada teori kesusastraan Bapak Mursal Esten atau yang lain, yang ada alur, tokoh, dan lain-lain. Kalau ada pinjam Ibu. Irfani.”
Pesan ini berbahasa Minang, si pengirim pesan bermaksud untuk menjaga rasa persaudaraan dan solidaritas yang tinggi (penerima pesan juga orang Minang) serta memudahkan urusannya karena sama-sama menguasai bahasa ibunya. Pesan ini bertujuan untuk meminjam buku kepada temannya dengan memberitahukan apa yang akan ia kerjakan. Dari pesan yang dikirimkan, beberapa tindakan yang muncul adalah menyapa, menjelaskan, memberitahukan, menyatakan, bertanya, memilih, dan berharap.
Pesan singkat langsung pada topik pembicaraan
1. Sy dikwitang, ada buku jdl, “ttg sast ra” penerbit ILDEP HARGA 10 RB. BLS CPT KLU MAU, sy sdh mau blik nih (Aris Badara)
“Saya berada di Kwitang, ada buku judul, “tentang Sastra.” Penerbit ILDEP, harganya Rp. 10.000,-. Balas cepat, Kalau mau. Saya sudah mau balik nih.”
Kutipan SMS di atas, pembicara bermaksud untuk memberitahukan kepada temannya bahwa ia berada disuatu tempat penjualan buku. Ia mengungkapkan bahwa ia menemukan sebuah buku, lengkap dengan judul, penerbit, dan harganya. apakah temannya berminat atau tidak. Namun, pada akhirnya, ia memaksa temannya mau atau tidak, dengan mengancam ia akan segera pulang. Tindakan-tindakan yang muncul adalah sebagai berikut adalah pemberitahuan, pernyataan, pemaksaan, dan tindakan mengancam.
2. Kuliah akhir dan UAS bu sakura selasa jam 9 sekalian kumpul tugas akhir, dah minta rabu or kamis, ibu gak mau (Cahya Wiguna)
“Kuliah akhir dan UAS Ibu Sakura Selasa jam 9 sekalian kumpul tugas akhir. Sudah minta Rabu atau Kamis, Ibu tidak mau.”
Pesan ini bertujuan untuk memberitahukan perubahan acara perkuliahan dan ujian akhir semester. Pernyataan yang diutarakan mengandung suatu permohonan untuk menunda peyerahan tugas akhir dengan memberikan pilihan. Namun ternyata tawaran yang ia berikan tidak disetujui oleh dosennya. Tujuannya mengirimkan pesan kepada temannya adalah sebagai solidaritas untuk bersama-sama dapat menyelesaikan tugas tersebut. Dalam pesan yang ia kirimkan terdapat beberapa tindakan sebagai berikut: memberitahukan, menyatakan, meminta, memilih, dan memohon.
3. Td sy ngobrol dg p.Emzir ujian komprehensif diadakan minggu ke 2 Feb, dg cat. Hrs udah lulus sma mt klh.(Meti Istimurti).
“Tadi saya ngobrol dengan Pak Emzir, ujian komprehensif diadakan minggu ke-2 Februari. Dengan catatan harus sudah lulus semua mata kuliah.”
Pesan ini muncul karena rasa solidaritas teman untuk menyampaikan informasi yang ia peroleh. Pernyataan yang ia ajukan adalah sebagai suatu peringatan kalau penerima pesan harus menyelesaikan semua mata kuliah kalau ia berkeinginan untuk mengikuti ujian komprehensif. Dari pesan yang dikirimkan tersebut terdapat beberapa tindakan sebagai berikut: pemberitahuan, pernyataan, dan peringatan.
4. Td ketemu Pak emzir,kt kompre mggu ke2 fbruari. Jd jgn beli tiket dulu. ok? (Aris Badara)
“Tadi ketemu Pak Emzir, kita kompre minggu ke-2 Februari. Jadi jangan beli tiket dulu, oke?”
Pesan ini terdiri dari dua kalimat yang bertujuan untuk memberitahukan masalah ujian komprehensif yang akan akan dialksanan pada minggu ke-2 Februari kepada temannya. Fungsinya adalah untuk rasa solidaritas, ia berharap temannya jangan pulang kampung dulu karena ada ujian yang akan dilaksanakan. Pesan yang dikirimkan diiringi dengan perintah yang tidak menyinggung perasaan termannya. Pesan ini mengandung beberapa tindakan sebagai berikut: pemberitahuan, pernyataan, pengharapan, perintah, dan persetujuan.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis terhadap layanan pesan pendek telepon selular dapat disimpulkan bahwa pesan yang dikirimkan memiliki ciri linguistik penuturan, latar belakang kondisi untuk sebuah pengucapan/penuturan memiliki fungsi tertentu pada lingkungan tertentu (pengguna hand phone selular). Pengucapan dapat melaksanakan lebih dari satu tindakan, multifungsi yang mendasari kondisi tindak tutur. Masing-masing tindakan dapat saling berhubungan dapat juga dalam suatu pengucapan dengan banyak tindakan yang terpisah atau dengan kata lain “satu bentuk untuk banyak fungsi (pernyataan, permintaan, permohonan, penawaran, dan lain-lain)”.
Hubungan satu bentuk untuk banyak fungsi (permintaan, penawaran, permohonan, dan lain-lain) yang dinginkan pembicara agar penerima pesan dapat melakukan tindakan untuk memenuhi semua keinginannya. Masalah yang sering muncul adalah apabila keinginan itu muncul secara eksplisit, sehingga pendengar sulit memahami tindakan (fungsi) yang akan dialakukan serta kondisi ketulusan dari tindakan yang muncul dari pendengar.
Kajian ini merupakan kajian awal dari pedekatan teori tindak tutur dalam analisis wacana SMS (Short Message Servis). Diharapkan kajian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengkaji SMS secara lebih mendalam degan teori dan jenis kajian lebih beragam. Keterbatasan kemampuan membuat kajian ini tampil sangat sederhana dan menjanjikan, semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Austin, J.L. 1975. How to do Thing with Words. Oxford: Oxford Unviersity Press
Halliday, M.A.K. and Hasan Ruqaiya. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa Dalam Pandangan Semiotik Sosial. Penj. Asruddin Barori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Holmes, Janet. 1994. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman
Leech, G.N. 1983. Principles of Pragmatics. New York: Longman
Schiffrin , Deborah, 1994 Approaches to Discourse. Cambridge: Blackwell Published,.
Searle, John R. 1975. Indirect Speech Acts. Dalam Davis Steven. Et. Al. 1991. Pragmatics: A Reader. Oxford: Oxford University Press
Sumarsono dan Paina Partana. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Suwito. 1988. Sosiolinguistik: Teori dan Terapan. Surakarta: Kenari Offset
Waller, Norman E. 1990. How to Design an Evaluate Research in Education, New York: McGraw Hill Inc.
Selasa, 16 Februari 2010
PENDEKATAN TINDAK TUTUR DALAM WACANA SHORT MESSAGE SERVICE (SMS)
Diposting oleh
yusrizal
di
00.25
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar