Sunyi
Yusrizal
Senja kali ini angin laut berhembus sungsang
Tersirat kabarkan rindu diantara kilau gelombang
Kabarmu memekik camar
Terbang riuh rendah melewati batas waktu
Hantarkan rindu yang tertinggal
Seumpama aku tak pernah kembali
Tolong kirimkan sunyi untukku
Seperti kelana
Biarkan hilang bersama waktu
Sunyi kau dan aku
syahdu berjumpa
Gamang I
Yusrizal
Deru siang ini dibaluri kabut nan gelisah
Risau bertanya pada gamang nan semilir
Sunyi menari di batas penantian yg kau torehkan
Sementara igau ku tak mampu sampaikan kabar
Akan nasib yang telah tergadai
Titian binasa karena lapuk
Janji binasa kalau diungkai
Cukup sampai di sini
Gamang II
Yusrizal
Lewat lelah yang telah kau tumpuk
Matamu telah membawa pulang kerinduan ini
Namun kabutmu tetap saja tak kuasa samarkan gundah
Sepanjang perjalanan yang kau ukir
Jikalau dikau gamang dik
Biarkan matamu yang berkisah
Karena mata kembara jiwa
Apa yang kau cari dinda?
Gamang III
Yusrizal
Jika luka yang kau risaukan dik
Biarkan waktu yang membalurinya
Toh angin subuh tetap saja sejuk memberi pupur
Sejenak mari sandarkan beban
Singkirkan hati nan selalu gamang
Tak perlu diungkapkan kata,
Hati nan tidak berprasangka
Ikhlaskan nurani yang bicara
Tersebab cinta pasti sisakan luka
Rindu I
Yusrizal
Izinkan aku mencari kunci langit-mu nan tujuh
Biar kuarungi samudra rindu ini
Lewat bait bait doa dan dan bentangan sajadah
Layarkanlah aku dengan asma-Mu
Biar berjumpa di penghujung nafas
Biar rindu semakin kental
Tuk menghapus dosa nan menghitam
Rindu II
Yusrizal
Ketika rindu ini terasa menyesak
Ku cari bayangmu pada setiap detak nafas
Ku titipkan salam lewat sujud-sujud malam
Kuingin kasih-Mu mengalir sampai muara penghidupan
Maka biarkanlah aku menjadi kembara dibawah langit-Mu
Sampai letih lidah mengeja asma-Mu
Sandarkan jiwa lafazkan la illaha illallah
Telanjang aku di hadap-Mu
Rindu Ku
Yusrizal
Masihkah pantaimu menyimpan bekas jejak kita dik
Saat senja semakin jingga
Kita pernah menyandarkan lelah pada bahu malam
Seiring kepak dan pekik camar
Rembulan datang tersipu, kita lena dibuai rindu
Seumpama kita telah jauh dari laut
Biarkanlah ombak itu tetap berdebur dalam detak nadi
Tapi tolong
Jangan biar...
Rindu Ku II
Yusrizal
Ada rindu disela tawa sore
Tentang cerita dan mimpi yang telah usai
Kita telah menggaris nasib bersama layang-layang
Meski bertumpang pada angin
Kau dan aku sama-sama gamang
Sementara angin masih melimbubu di tengah padang
Kita tersangkut tanpa benang
Usai usailah sudah
Seperti hiasan waktu
Perpisahan I
Yusrizal
Perpisahan ini masih terasa menggayut di dada
Seperti yang sudah sudah
Tak ada pesta yang tak usai
Perasaan ini telah melayarkan perahu di lautan
Dermaga tinggal di lubuk kalbu
Pantai sunyi dirangkai kata
Pasrah ditampar ombak
Seumpama angin semakin liar
Masih kau menyigi pucuk pucuk gamang
Sekedar mengucapkan
Selamat tinggal kau yang tertinggal
Perpisahan II
Yusrizal
Inilah mabuk yang semabuk-mabuknya
Pada ujung belukar rindu yang kau tanam
Berjumplitan melewati batas penantian
Kau dan aku berdiri berpayung ragu
Hantarkan biduk di pelabuhan
Merangkai kata-kata perpisahan
Kita bicara bermuka muka
Mata ke mata
Lapuk terpanggang mentari
Galau I
Yusrizal
Ketika lelah mengusik raga
Pikiran galau menusuk jiwa
Jangan biarkan nyanyian sendu mengiringi alunan nafas
Nyalakan lantera cinta seperti ketika kita masih polos jiwa dan raga
Ketika senda gurau
Canda tawa disetiap sudut hati kita!
Galau II
Yusrizal
Kita pernah menumpangkan nasib pada harapan
Ketika galau tak mungkin lagi bisa berdamai
Tapi siapakah yang telah merangkai sengketa
Paparkan mimpi di cagak cagak rumah kita
sementara camar tetap saja pekikkan risau dari laut
Tentang pantai yang semakin renta
Meski gelombang selalu menghempaskan resah
Kita ...
Galau III
Yusrizal
Galau kali ini telah melenakan-ku
Di penghujung penantian ini rindu mencabik dada
Kita masih ramai merumuskan nasib
Sementara sayup angin memberi kabar risau
Limpapeh hilang
Rumah gadang entah kemana
Lewat lipatan langit nan tujuh
Ingin kuteriakkan
Jangan biarkan bungkuk dimakan sarung
Hingga Waktu
Yusrizal
Jika kau lelah menari bersama angin
Biarkan dedaunan mengantarkan pesan bersama sore
Bukankah gelap tetap setia bersama malam
Sembunyikan berjuta catatan perjalanan
Seperti naskah yang tetap saja kau simpan di palung sanubari
Biarkan mulut mengeja dan jemari menelisiknya
Sampai penghujung waktu
Tuhan menunggu di situ
Permintaan
Di penghujung malam ini
Terasa embun semakin menyungkup
Perlahan endapkan kabut pasrahkan bumi
Perlahan pasti menebal meski samar
Tak ada yang tahu bisunya bumi
Seperti dosa yang telah tertoreskan
Perlahan namun semakin pekat
Aku ada yang tahu
Kecuali kau dan tuhan-Mu
Maka biarkanlah airmata ini jatuh berderai...,
Bukan karena sesalan
Tapi meminta
Kau sudi mengampuni
Pilu aku luluh berharap
0 komentar:
Posting Komentar