Senin, 07 Maret 2011

Kumpulan Puisi

Sunyi

Yusrizal

Senja kali ini angin laut berhembus sungsang

Tersirat kabarkan rindu diantara kilau gelombang

Kabarmu memekik camar

Terbang riuh rendah melewati batas waktu

Hantarkan rindu yang tertinggal

Seumpama aku tak pernah kembali

Tolong kirimkan sunyi untukku

Seperti kelana

Biarkan hilang bersama waktu

Sunyi kau dan aku

syahdu berjumpa

Gamang I

Yusrizal

Deru siang ini dibaluri kabut nan gelisah

Risau bertanya pada gamang nan semilir

Sunyi menari di batas penantian yg kau torehkan

Sementara igau ku tak mampu sampaikan kabar

Akan nasib yang telah tergadai

Titian binasa karena lapuk

Janji binasa kalau diungkai

Cukup sampai di sini

Gamang II

Yusrizal

Lewat lelah yang telah kau tumpuk

Matamu telah membawa pulang kerinduan ini

Namun kabutmu tetap saja tak kuasa samarkan gundah

Sepanjang perjalanan yang kau ukir

Jikalau dikau gamang dik

Biarkan matamu yang berkisah

Karena mata kembara jiwa

Apa yang kau cari dinda?

Gamang III

Yusrizal

Jika luka yang kau risaukan dik

Biarkan waktu yang membalurinya

Toh angin subuh tetap saja sejuk memberi pupur

Sejenak mari sandarkan beban

Singkirkan hati nan selalu gamang

Tak perlu diungkapkan kata,

Hati nan tidak berprasangka

Ikhlaskan nurani yang bicara

Tersebab cinta pasti sisakan luka


Rindu I

Yusrizal

Izinkan aku mencari kunci langit-mu nan tujuh

Biar kuarungi samudra rindu ini

Lewat bait bait doa dan dan bentangan sajadah

Layarkanlah aku dengan asma-Mu

Biar berjumpa di penghujung nafas

Biar rindu semakin kental

Tuk menghapus dosa nan menghitam


Rindu II

Yusrizal

Ketika rindu ini terasa menyesak

Ku cari bayangmu pada setiap detak nafas

Ku titipkan salam lewat sujud-sujud malam

Kuingin kasih-Mu mengalir sampai muara penghidupan

Maka biarkanlah aku menjadi kembara dibawah langit-Mu

Sampai letih lidah mengeja asma-Mu

Sandarkan jiwa lafazkan la illaha illallah

Telanjang aku di hadap-Mu


Rindu Ku

Yusrizal

Masihkah pantaimu menyimpan bekas jejak kita dik

Saat senja semakin jingga

Kita pernah menyandarkan lelah pada bahu malam

Seiring kepak dan pekik camar

Rembulan datang tersipu, kita lena dibuai rindu

Seumpama kita telah jauh dari laut

Biarkanlah ombak itu tetap berdebur dalam detak nadi

Tapi tolong

Jangan biar...

Rindu Ku II

Yusrizal

Ada rindu disela tawa sore

Tentang cerita dan mimpi yang telah usai

Kita telah menggaris nasib bersama layang-layang

Meski bertumpang pada angin

Kau dan aku sama-sama gamang

Sementara angin masih melimbubu di tengah padang

Kita tersangkut tanpa benang

Usai usailah sudah

Seperti hiasan waktu


Perpisahan I

Yusrizal

Perpisahan ini masih terasa menggayut di dada

Seperti yang sudah sudah

Tak ada pesta yang tak usai

Perasaan ini telah melayarkan perahu di lautan

Dermaga tinggal di lubuk kalbu

Pantai sunyi dirangkai kata

Pasrah ditampar ombak

Seumpama angin semakin liar

Masih kau menyigi pucuk pucuk gamang

Sekedar mengucapkan

Selamat tinggal kau yang tertinggal


Perpisahan II

Yusrizal

Inilah mabuk yang semabuk-mabuknya

Pada ujung belukar rindu yang kau tanam

Berjumplitan melewati batas penantian

Kau dan aku berdiri berpayung ragu

Hantarkan biduk di pelabuhan

Merangkai kata-kata perpisahan

Kita bicara bermuka muka

Mata ke mata

Lapuk terpanggang mentari


Galau I

Yusrizal

Ketika lelah mengusik raga

Pikiran galau menusuk jiwa

Jangan biarkan nyanyian sendu mengiringi alunan nafas

Nyalakan lantera cinta seperti ketika kita masih polos jiwa dan raga

Ketika senda gurau

Canda tawa disetiap sudut hati kita!


Galau II

Yusrizal

Kita pernah menumpangkan nasib pada harapan

Ketika galau tak mungkin lagi bisa berdamai

Tapi siapakah yang telah merangkai sengketa

Paparkan mimpi di cagak cagak rumah kita

sementara camar tetap saja pekikkan risau dari laut

Tentang pantai yang semakin renta

Meski gelombang selalu menghempaskan resah

Kita ...


Galau III

Yusrizal

Galau kali ini telah melenakan-ku

Di penghujung penantian ini rindu mencabik dada

Kita masih ramai merumuskan nasib

Sementara sayup angin memberi kabar risau

Limpapeh hilang

Rumah gadang entah kemana

Lewat lipatan langit nan tujuh

Ingin kuteriakkan

Jangan biarkan bungkuk dimakan sarung


Hingga Waktu

Yusrizal

Jika kau lelah menari bersama angin

Biarkan dedaunan mengantarkan pesan bersama sore

Bukankah gelap tetap setia bersama malam

Sembunyikan berjuta catatan perjalanan

Seperti naskah yang tetap saja kau simpan di palung sanubari

Biarkan mulut mengeja dan jemari menelisiknya

Sampai penghujung waktu

Tuhan menunggu di situ

Permintaan

Di penghujung malam ini

Terasa embun semakin menyungkup

Perlahan endapkan kabut pasrahkan bumi

Perlahan pasti menebal meski samar

Tak ada yang tahu bisunya bumi

Seperti dosa yang telah tertoreskan

Perlahan namun semakin pekat

Aku ada yang tahu

Kecuali kau dan tuhan-Mu

Maka biarkanlah airmata ini jatuh berderai...,

Bukan karena sesalan

Tapi meminta

Kau sudi mengampuni

Pilu aku luluh berharap

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com